Apakah HIV itu?

HIV adalah singkatan dari ‘human immunodeficiency virus’ (virus penurunan kekebalan tubuh pada manusia) . HIV adalah sebuah virus (yang berjenis ‘retrovirus’) yang menyerang sel sistem kekebalan tubuh (khususnya sel CD4 positif T dan makrofagus—yang merupakan komponen kunci dalam sistem kekebalan selular), dan menghancurkan atau mengganggu fungsi mereka. Infeksi oleh virus ini berakibat pada penurunan secara berangsur-angsur sistem kekebalan tubuh, yang mengakibatkan ‘defisiensi kekebalan tubuh’.

Sistem kekebalan tubuh dianggap menurun jika tidak dapat lagi memenuhi tugasnya untuk memerangi infeksi dan penyakit. Orang yang kekebalan tubuhnya berkurang lebih rentan terkena berbagai macam infeksi, yang sebagian besar langka diderita manusia yang tidak menderita kekurangan kekebalan tubuh. Infeksi yang terkait dengan penurunan kekebalan tubuh secara drastis dikenal dengan istilah ‘infeksi oportunistik”, karena mereka memanfaatkan lemahnya sistem kekebalan tubuh.

Apa itu AIDS?

AIDS merupakan singkatan dari ‘acquired immunodeficiency syndrome’ (gejala kekurangan kekebalan tubuh yang diperoleh’ dan merupakan definisi pengamatan yang didasarkan pada tanda-tanda, gejala, infeksi, dan kanker yang terkait dengan penurunan / defisiensi sistem kekebalan yang diakibatkan oleh infeksi HIV.

Apa gejala HIV?

Sebagian besar yang terinfeksi dengan HIV tidak mengetahui bahwa mereka telah terinfeksi, karena mereka tidak merasa sakit segera setelah terinfeksi. Namun demikian, beberapa orang pada saat serokonversi menimbulkan gejala “Acute retroviral syndrome” yang merupakan penyakit seperti demam kelenjar yang ditandai dengan demam, bintik-bintik di kulit, nyeri persendian dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Serokonversi merujuk pada munculnya antibodi terhadap HIV dan umumnya terjadi antara 1 hingga 6 minggu setelah infeksi HIV terjadi.

Terlepas apakah infeksi HIV menyebabkan gejala-gejala awal, seseorang yang terinfeksi HIV sangat berpotensial untuk menularkan penyakit tersebut selama masa awal ini dan dapat menularkan virus ke orang lain. Satu-satunya cara untuk menentukan apakah HIV ada pada tubuh seseorang adalah melalui tes untuk antibodi HIV atau HIV itu sendiri.

Setelah HIV telah menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh secara progresif, peningkatan kerentanan terhadap infeksi dapat menyebabkan gejala-gejala.

Tahapan HIV ditentukan berdasarkan tanda, gejala, infeksi dan kanker yang dikelompokkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Interim WHO clinical staging of HIV/AIDS and HIV/AIDS case definitions for surveillance (2005): http://www.who.int/hiv/pub/guidelines/clinicalstaging.pdf:

  • Infeksi HIV primer – dapat tidak menimbulkan gejala (asimtomatik) atau dialami dalam bentuk sindrom retroviral akut
  • Tahap klinis 1 – tidak ada gejala atau pembengkakan limpa secara umum
  • Tahap klinis 2 – meliputi penurunan berat badan secara ringan, manifestasi mukokuta minor, infeksi saluran pernapasan atas yang berulang-ulang.
  • Tahap klinis 3 – mencakup diare kronis yang tidak diketahui sebabnya, demam yang terus menerus tanpa sebab yang diketahui, oral candidiasis atau leukoplakia, infeksi bakteri berat, TBC, dan inflamasi pada mulut. Beberapa orang yang mengalami tahap 3 memiliki aids
  • Tahap klinis 4 – mencakup 22 infeksi oportunistik atau kanker yang terkait HIV. Semua orang yang mengalami tahap klinis 4 memiliki AIDS.

Sebagian besar kondisi ini merupakan infeksi oportunistik yang dapat diobati dengan mudah pada orang yang sehat.

Kapan seseorang memiliki AIDS?

AIDS merupakan suatu istilah pengamatan yang didefinisikan oleh United States Centers for Disease Controland Prevention (CDC): http://www.cdc.gov/ncphi/disss/nndss/print/aidscurrent.htm, dan oleh European Centre for the Epidemiological Monitoring of AIDS (EuroHIV):http://www.eurohiv.org/case_definitions/definitions_eng.htm

Istilah AIDS berlaku terhadap sebagian besar tahap infeksi HIV lanjutan, yang didefinisikan oleh terjadinya salah satu atau lebih dari 20 infeksi oportunistis atau kanker yang terkait HIV. Disamping itu, CDC mendefinisikan AIDS atas dasar sebuah penghitungan ‘CD4 positive T cell’ sebesar kurang dari 200 per mm3 darah.

Seberapa cepat seseorang yang terinfeksi HIV mulai mengalami AIDS?

Lamanya waktu dapat sangat berbeda-beda antara para individu. Sebagian besar orang yang terinfeksi dengan HIV, jika tidak diobati, mengalami gejala penyakit yang terkait dengan HIV dalam kurun waktu 5-10 tahun, namun jangka waktu antara infeksi HIV dan terdiagnosa dengan AIDS bisa menjadi 10-15 tahun, terkadang lebih lama lagi. Terapi antiretroviral dapat memperlambat perkembangan penyakit menjadi AIDS dengan cara mengurangi muatan virus orang yang terinfeksi.

WHO merekomendasikan dimulainya terapi antiretroviral terapi bagi semua remaja dan orang dewasa yang terinfeksi HIV yang ada pada tahap klinis 4 atau memiliki hitungan positif CD4 sel T kurang dari 200 per mm3, dan untuk beberapa orang yang berada pada tahap klinis 3.

Terapi antiretroviral untuk infeksi HIV pada orang dewasa dan remaja: Rekomendasi untuk pendekatan kesehatan masyarakat (revisi 2006):

http://www.who.int/hiv/pub/guidelines/artadultguidelines.pdf

Sumber : UNAIDS